yang setia mengikuti blog ini dan ingin mengikuti

Firman Allah SWT:

Wahai umat manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari lelaki dan perempuan, dan Kami telah menjadikan kamu berbagai bangsa dan bersuku puak, supaya kamu berkenal-kenalan (dan beramah mesra antara satu dengan yang lain). Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah orang yang lebih taqwanya di antara kamu, (bukan yang lebih keturunan atau bangsanya). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Mendalam PengetahuanNya (akan keadaan dan amalan kamu).
(Surah Al-Hujurat ayat 13)

Innity

Tuesday, July 20, 2010

kisah perjalanan dakwah sang murabbi, Ust. Rahmat Abdullah Partai Keadilan Sejahtera, Banyak Terpengaruh Dengan Perjuangan As-Syahid Hassan Al-Banna





Rahmat Abdullah, yang seringkali dipanggil Bang Mamak oleh warga Kampung Kuningan ini, meskipun lahir dari pasangan asli Betawi, namun ia selalu menghindari sebutan Betawi yang dianggapnya berbau kolonial Belanda. Ia lebih bangga dengan menyebut Jayakarta, karena baginya itulah nama yang diberikan Pangeran Fatahillah kepada tanah kelahirannya. Sebuah sikap yang tak lain lahir dari semangat anti kolonialisme dan imperialisme, serta kebanggaan (izzah) terhadap warisan perjuangan Islam.

Pada usia 11 tahun, Rahmat kecil harus menapaki hidupnya tanpa asuhan sang ayah, karena saat itu ia telah menjadi seorang anak yatim. Sang ayah hanya mewariskan pada dirinya usaha percetakan-sablon, yang ia kelola bersama sang kakak dan adik untuk menutupi segala biaya dan beban hidup yang mesti ditanggungnya.

Meskipun begitu, Rahmat bukanlah remaja yang cengeng. Walaupun harus ikut membanting tulang mengais rezeki, ia tetap tak mau tertinggal dalam pendidikan. Awal pendidikan resminya ia mulai sejak masuk sekolah dasar negeri di bilangan Kuningan, yang kala itu masih berupa perkampungan Betawi, belum berdiri gedung-gedung pencakar langit. Dan seperti umumnya generasi saat itu, Rahmat kecil setiap pagi mengaji (belajar membaca Al Qur-an, baca tulis Arab, kajian aqidah, akhlaq & fiqh dengan metode baca kitab berbahasa Arab, nukil terjemah dan syarah ustadz) baru siang harinya dilanjutkan dengan sekolah dasar.

Tahun 1966, setelah lulus SD, yang tahun ajarannya diperpanjang setengah tahun karena terjadi peristiwa G-30-S/PKI, Rahmat masuk SMP. Tapi kali ini ia mesti keluar lagi karena terjadi dilema dalam dirinya. Ironi memang, di satu sisi keaktifan dirinya sebagai aktifis demonstran anggota KAPPI & KAMI yang dikenal sebagai angkatan 66, namun di hari Jum’at sekolahnya justru masuk pukul 11.30, tepat saat shalat Jum’at.

Karenanya pada permulaan tahun ajaran berikutnya (1967/1968) Rahmat memutuskan pindah ke Ma’had Assyafi’iyah, Bali Matraman. Dari hasil test dan interview, ia harus duduk di kelas II Madrasah Ibtidaiyah (tingkat SD). Namun Rahmat tidak puas dengan hasil itu, ia mencoba melakukan lobby dengan seorang ustadz, untuk melakukan test ulang hingga ia pindah duduk di kelas III.

Permulaan belajar di Ma’had ini, bagi Rahmat begitu berbekas. Apalagi ia harus ikut mengaji pada seorang ustadz senior Madrasah Tsanawiyah (Tingkat SMP) yang sangat streng dalam berbicara dan mengajar dengan bahasa Arab. Namun tak selang lama, ternyata sang guru kelas ini justru sama-sama mengaji bersamanya.

Rahmat memang langsung meloncat naik ke kelas V, di sinilah ia belajar ilmu nahwu dasar yang sangat ia sukai karena dengan ilmu itu terkuaklah setiap misteri intonasi dan narasi penyiar Shauth Indonesia, yang sering disiarkan oleh radio RRI dengan berbahasa Arab. Siaran inilah yang menjadi acara kesukaan Rahmat. Sehingga meski hidupnya serba kekurangan, namun karena sadar akan pentingnya komunikasi dan informasi, Rahmat merelakan uang makannya untuk dikumpulkan sedikit demi sedikit dari hasil jerih payahnya mencari pelanggan sablon, untuk membeli radio. Padahal saat itu, radio masih menjadi status simbol bagi orang-orang kaya zaman itu.

Selepas kelas V, Rahmat melanjutkan di Madrasah Tsanawiyah Assyafi’iyah. Di MTs ini ia belajar ushul fiqh, musthalah hadits, psikologi & ilmu pendidikan, di samping tetap belajar ilmu nahwu, sharf dan balaghah. Tapi pelajaran yang paling ia sukai adalah talaqqi. Biasanya talaqqi ini dilakukan langsung dengan para masyaikh (kiai) serta bimbingan langsung sang orator pembangkit semangat yang selalu memberikan inspirasi Rahmat muda, KH Abdullah Syafi’i.

Di saat ini pula Rahmat merintis dakwah dengan mengajar di Ma’had Asyafi’iyah dan Darul Muqorrobin, Karet Kuningan. Di tempat inilah Rahmat remaja mengabdikan dirinya sebagai guru, pendidik dan mengajarkan berbagai ilmu. Keseharian ini ia jalani bertahun-tahun dengan berjalan kaki dari Bali Matraman ke Karet Kuningan. Bahkan untuk memberikan pelajaran tambahan berupa les privat pun ia lakukan dengan berjalan kaki masuk ke lorong-lorong jalanan Jakarta hingga larut malam.

Semangat hidup dan dakwah ini juga ia tuangkan dalam berbagai untaian bait-bait syair, puisi serta berbagai tulisan artikel kecil yang ia kirim ke berbagai media. Tak jarang ia juga berlatih bermain teater bersama rekan-rekan guru atau teman-teman seperjuangannya.

Dari jerih payah inilah, selain bisa membeli sebuah motor Honda 66 atau sering disebut motor Chips, Rahmat Abdullah mampu mengasah watak dan pikirannya sehingga menjadi murid terbaik dan murid kesayangan dari KH. Abdullah Syafi’i. Bahkan sempat pada tahun 1980, bersama empat rekannya mau diberangkatkan ke Universitas Al Azhar Kairo Mesir, namun sayang gagal karena adanya ‘fitnah’ dari kalangan internal.

Namun hal itu tak menyurutkan Rahmat untuk selalu belajar. Sejak berkenalan dengan Syeikh Mesir yang pernah dikenalkan KH. Abdullah Syafi’i padanya, ia mulai senang melahap berbagai buku dan pemikiran Islam seperti Hasan Al Banna, Sayyid Quthb, Al Maududi serta tokoh nasional seperti HOS Cokroaminoto dan M. Natsir.

Sedang dari perjalanan dakwah bersama remaja-remaja Kuningan, menjadikannya sangat suka kala berdiskusi dan berguru dengan tokoh-tokoh M Natsir, Mohammad Roem ataupun Syafrudin Prawiranegara. Rahmat pun mengakui secara terus terang mengadopsi logika dan metode orasi yang ia ambil dari sang orator Isa Anshari dan Buya Hamka serta sang gurunya sendiri, Abdullah Syafi’i yang masyhur dengan teriakan lantang penggugah jiwa.

Rahmat remaja meski dikenal sebagai demonstran tapi sosoknya dikenal lembut, bahkan dianggapnya seringkali tidak bisa marah. Kemarahannya akan terlihat meledak jika Islam dilecehkan. Sebagaimana saat mendengar pembicaraan sang kakak, Rahmi, saat meminta kolega bisnisnya yang bekerja sebagai Kopasanda -Kopassus- untuk melunasi hutangnya. Tapi Kopassanda malah menjawab, "Nabi saja bisa meleset janjinya." Kontan mendengar pernyataan itu Rahmat keluar dari ruangan samping dan langsung berucap, "Nabi yang mana janjinya tidak tepat," Kopasanda itu malah menjawab, "Anda ndak usah ikut campur dengan urusan ini." Rahmat remaja langsung menyambut, "Suara Bapak terdengar di telinga saya di sini, sekali pun bapak berpakaian dinas, nabi yang mana yang ingkar janji itu," ujar Rahmat menahan emosi. Akhirnya Kopasanda itu minta maaf.

Sikap tegas ini lah yang menjadikan Rahmat Abdullah muda sangat disegani para pemabok ataupun preman. Karena caranya mendekati yang bersahabat. Bahkan, meski pernah kakaknya disakiti jagoan Kuningan waktu itu, H. Hamdani, ia tetap bisa menghadapinya dengan baik. Malah anak jagoan itu yang kemudian sempat ditahan polisi.

Anak-anak muda, preman, seniman semuanya ia rangkul terutama dalam wadah seni teater yang sering ia gelar di lapangan depan masjid Raudhtul Fallah —lapangan yang berada di belakang Dubes Malaysia saat ini-. Di tempat inilah Rahmat muda sering mengekspresikan syair dan puisinya serta peranan imajinasi dan pemikirannya sebagai sutradara teater dengan menggelar pagelaran teater drama terbuka. Teater yang terakhir kali ia pentaskan berjudul "Perang Yarmuk" yang tampil bersama Abdullah Hehamahua (1984). Dimana pementasannya sempat dikepung oleh intel dan aparat keamanan karena dianggap subversif di masa kekuasan Suharto.

Selepas pentas pun, tak ayal Rahmat dipanggil untuk menghadap KODIM. Namun Rahmat justru menjawab "Kalau yang memanggil Ibu, saya akan datang. Kalau yang memanggil KODIM sampai kapan pun saya tak akan pernah datang. Kalau mau saya datang ke KODIM, datang dulu ke ibu saya," ungkap Rahmat muda menjawab aparat dari kodim yang melayangkan surat panggilannya. Bahkan salah satu aparat KODIM, Soeryat, sempat menangis di hadapan Rahmat muda karena nasehat-nasehatnya agar tidak saling ‘memberangus’ sesama Muslim.

Keasyikan menceburkan diri dalam dakwah, rupanya menjadikan Rahmat tak sadar telah dimakan usia. Rahmat baru tersadar ketika seorang teman yang baru menikah mengingatkan sudah waktunya memikirkan bangunan rumah tangga. Barulah ia menyadari usianya sudah memasuki tahun ke-32.

Malam itu, malam Kamis 14 Ramadhan 1405 H. (1984 M), bertiga; Rahmat, ibunda dan bibi datang mengkhitbah seorang anak yang pernah menjadi muridnya, Sumarni, tatkala Rahmat duduk di kelas II MTs. Saat itu Sumarni masih menjadi siswi kelas I Madrasah Ibtidaiyah (lk. Umur 5 tahun). Ia adalah sang nominator juara I untuk lomba praktik ibadah.

Saat berlangsungnya khitbah, ketika keluarga Rahmat mengajukan usulan walimah bulan Syawal seperti kebiasaan Rasululllah saw, seorang ustadz wakil dari perempuan mengatakan, "Itu tetap walimah, tetapi Anda tidak akan menemukan keberkahan seperti bulan (Ramadhan) ini." Akhirnya, disepakati untuk nikah besok malamnya, malam Jum’at 15 Ramadhan. "Soal KUA urusan Ane, tinggal terima surat aje," ujar ustadz tadi. "Bah, ini rada-rada ketemu," ujar Rahmat muda dalam hati.

Walhasil sampai menjelang rombongan berangkat 15 Ramadhan itu, masih ada teman pemuda masjid yang bertanya, "Ini mau kemana sih?" Apalagi suasana saat itu memang masih represif. Bahkan belum sebulan menikah, di pagi buta ba’da subuh sesaat setelah peristiwa Tanjung Periok, Rahmat telah dijemput untuk mendengarkan rekaman peristiwa penembakan massa di Tanjung Priok yang terjadi semalam. Pagi itu lelaki yang sudah mulai akrab dipanggil Ustadz Rahmat itu, bersama pemuda Islam lainnya langsung meninjau lokasi yang porak poranda. Mendengar peristiwa itu pun, sang mertua justru mengusulkan untuk selalu membawa sang isteri untuk diajak juga keliling berbagai kota di Jawa. "Untuk penjajagan sikap ummat dan apa yang kerennya disebut ‘konsolidasi’lah," ujar Ustadz Rahmat saat diwawancarai beberapa saat lalu.

Setelah menikah, ia tinggal di Kuningan, bersama Ibu dan Adiknya. Hingga lahir tiga orang anaknya, Shofwatul Fida (19), Thoriq Audah (17) dan Nusaibatul Hima (15).

Pada pertengahan tahun 80-an Rahmat muda bergabung dengan Harakah Islamiyah yang saat itu tumbuh berkembang di Indonesia. Bersama Abu Ridho, Hilmi Aminudin dan beberapa tokoh pemuda Islam lainnya terus bersatu bergerak dalam dakwah yang lebih luas dan tertata. Gerakan dakwahnya ini lebih terinspirasi pada gerakan Ikhwanul Muslimin yang didirikan oleh Hasan Al Banna di Mesir yang sama-sama menjadi acuan kalangan muda saat itu

Pemikiran Hasan Al Banna yang telah lama menginspirasi dakwah pribadinya kini telah bertemu implementasinya bersama teman-teman yang merintis pendidikan dan kaderisasi dalam rangka penyadaran akan Islam dan mempertahankan kemurniannya. Di wadah baru inilah Rahmat selain berdiskusi, mengakses berbagai informasi tanpa melalaikan fungsi utama juga sebagai pendidik, penceramah, Rahmat merintis sebuah majalah Islam yang sangat disukai dan digemari kalangan muda. Namun sayang, saluran ekspresi pemikirannya itu harus dibredel di saat rezim orde baru mulai mengkhawatirkan kiprahnya. Namun pembredelan itu tak menyurutkan Rahmat untuk membuka lembaran baru berekspresi dalam dakwah.

Dan setelah 8 tahun menetap di Kuningan, ia mengontrak di Jl. Potlot I/ 29 RT 2 RW 3 Duren Tiga, Kalibata. Di sana lahir anaknya, Isda Ilaiha (13). Tapi panggilan dakwah sepertinya lebih memanggilnya. Tahun 1993 bersama murid-muridnya mencoba membangun pengembangan dunia pendidikan dan sosial dengan mendirikan Islamic Center Iqro’ yang terletak di Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat.

Di sini pula ia menetap dan memboyong keluarganya dari kontrakannya di Gang Potlot, Duren Tiga, Kalibata menuju tanah yang masih penuh rawa untuk berekspresi mengembangkan cita-citanya melalui kajian kitab-kitab klasik dan kontemporer. Di tempat terakhir ini merintis segala impian dan lahir anak-anaknya, Umaimatul Wafa (11), Majdi Hafizhurrahman (9), Hasnan Fakhrul Ahmadi(7).Di sini kesibukannya, semakin padat. Tetapi, kebiasaan pribadinya, untuk membaca, mengkaji Al Qur’an dan Tafsirnya, Hadits dan syarahnya tetap berjalan. Begitupun, kegiatannya mengisi pengajian di kantor, kampus, serta melayani berbagai macam konsultasi sejak lepas subuh hingga jam 08.00 pagi. Ditambah lagi kesibukan di Iqro’.

Bahkan, kegiatan rutin ini tetap ia jalani meskipun semenjak tahun 1999 ia diamanahi sebagai Ketua Bidang Kaderisasi DPP Partai Keadilan. Demikian juga saat beralih menjadi Ketua Majelis Syuro sekaligus Ketua Majelis Pertimbangan Partai Keadilan Sejahtera yang ia dirikan bersama teman-teman seperjuangan setelah lebih dari 10 tahun ia rintis.

Pada tahun 2004 sang aktivis demonstrasi, budayawan, filosof, guru dan pendidik yang disegani anak muda ini harus masuk ke gedung parlemen. Ustadz Rahmat terpilih sebagai wakil rakyat dari daerah pemilihan Bandung, Jawa Barat. Dan baru pada saat Ustadz Rahmat Abdullah mencalonkan diri inilah Bandung untuk pertama kalinya dimenangkan partai Islam.

Meskipun telah menjadi wakil rakyat, Ustadz Rahmat dikenal dikalangan Komisi III sebagai wakil rakyat yang tetap bersuara lantang, namun penuh santun dan filosofis sekaligus puitis dalam mengkritisi setiap kabijakan. Tak peduli menteri, presiden dan pejabat manapun ia sampaikan kritikan tajam membangunnya yang seringkali menjadi wacana baru bagi para pemimpin negeri ini.

Bahkan jabatan terakhir sebagai Ketua Badan Penegak Disiplin Organisasi Partai Keadilan Sejahtera ia emban dengan penuh amanah dan luapan semangat hingga akhir hayatnya saat ia harus dijemput kematian sesaat setelah berwudhu hendak menunaikan penghambaan pada sang Khalik, Selasa (14/6).

Sebuah harapan yang mungkin telah engkau ungkapkan sepekan sebelum dirimu meninggal. Dimana tidak biasanya dirimu ditegur isterimu ketika membuka album-album kenanganmu. "Lihat nih, orang Betawi kini telah keliling dunia, ke Inggris, Jerman, Belanda, Perancis, Amerika juga Makkah. Tinggal ke akheratnya saja yang belum," ujarmu berseloroh yang kini telah kau buktikan.

Selamat jalan guruku, jejak langkah perjuanganmu akan kami teruskan.

Ketahui 3 Perkara Wajib bagi Najib-Rosmah....

Tiga perkara yang wajib dilakukan oleh kerajaan Najib-Rosmah untuk menyelamat harta kekayaan dan kuasa mereka daripada dirampas kembali oleh kuasa orang ramai.Tiga perkara ini bukan terlalu susah untuk difikirkan. Malah ianya tidak memerlukan bantuan penasihat zionis APCO untuk memunculkan perancangan. Kita sendiri boleh memikirkan tiga pekara ini tanpa memerlukan ijazah PPE dari Oxford.

Tahap jaguh kampung dan gedebe politik seperti Ibrahim Ali pun sedar hal ini.

Tiga pekara ini ialah:

1. Anwar Ibrahim mesti di ketepikan;

2. Parti PAS wajib dipisahkan dari Pakatan Rakyat; dan

3. Propaganda untuk menghuru-harakan Parti Keadilan Rakyat wajib diperbesarkan

Ketiga-tiga perkara ini wajib berjalan sarentak. Untuk kerajaan Najib-Rosmah, tiga perkara ini lebih penting daripada dasar ekonomi baru atau model ekonomi baru. Lebih penting dari dasar luar negara. Lebih penting dari Rancangan Malaysia ke-10. Kerana rancangan ini begitu penting sekali, maka kerajaan Najib-Rosmah akan menjanjikan apa saja untuk memastikan tiga pekara ini dapat direalisasikan.

Kerajaan Najib-Rosmah tahu, sedar dan merasakan bahawa susuk Anwar Ibrahim memainkan peranan yang amat penting dalam ikatan setiakawan Pakatan Rakyat. Dengan adanya susuk Anwar maka Pakatan Rakyat dapat berdiri teguh. Mengikut pandangan Najib Rosmah, jika Anwar 'diketepikan' maka Pakatan Rakyat akan londeh terbarai. Sama ada ini hakikat atau sebaliknya bukan penting. Yang penting inilah persepsi politik mereka. Politik bukan kebenaran – politik ialah persepsi.

Apa yang kita lihat hari ini - apa yang sedang berlaku di lanskap politik negara ialah gerak kerja jentera dan apparatcik politik Najib-Rosmah sedang menjalankan tugas untuk meminggirkan Anwar.

Dalam strategi politik, langkah pertama sebelum musuh diserang ialah melahirkan satu imej buruk musuh. Ini penting untuk mengolah persetujuan orang ramai. Ketika perang dunia kedua dahulu, tentera Jepun digambarkan bermata sepet, bergigi jongang membawa pedang samurai. Sesudah perang tamat, Jepun dilihat sebagai kawan dan rakan berniaga yang baik. Memunculkan imej hodoh ini amat penting. Jika imej telah buruk maka apa sahaja yang diperkatakan terhadap Anwar akan diyakini umum.

Strategi baru

Langkah pertama ialah mengaitkan Anwar dengan Saiful. Ini juga bukanlah satu langkah yang bijak bergeliga. Menggunakan kes liwat yang diadukan oleh Saiful, telah diteroka lebih awal lagi oleh Mahathir Mohamad pada 1998 dahulu melalui kes seumpamanya terhadap Azizan Abu Bakar.

Apabila Saiful diberitakan tidak membuang air besar selama dua hari kerana menyimpan bahan bukti di dalam duburnya, maka tahap jenaka dan genre lawak Melayu telah melonjak tinggi. Rating Lebai Malang dan Pak Pandir berkemungkinan jatuh. Apek Senario telah menjadi lawak basi. Lubang Saiful naik ke mercu kegemilangan.

Seperti kes Azizan, kes liwat Saiful juga telah tergelincir. Kelihatan propaganda berbentuk ini telah menjelak dan menjelikkan orang ramai. Ini mula disedari oleh Najib-Rosmah. Propaganda kes Saiful yang dirancang untuk memburukan Anwar telah menjadi lawak bodoh dan sedang melawan tuan.

Dengan cepat para apparatcik dan jentera Najib-Rosmah bergerak. Kali ini wajib dimunculkan satu lagi strategi baru – ejen asing. Harus disedari bahawa surah - ejen asing - ini juga telah mula muncul pada 1998. Ketika itu duta Amerika ke Malaysia ialah John R Malot.

Dalam kes pertama tahun 1998, memang telah disebarkan surah bahawa Anwar Ibrahim ini adalah ejen CIA. Apabila berita ini tersebar, kerajaan Amerika telah mengambil langkah yang tepat.

Menurut Pak Duta John R Malot - kerajaan Malaysia telah diberi amaran - jangan campur adukkan kerajaan Amerika dengan krisis dalaman politik Malaysia. Bila amaran ini sampai, maka surah Anwar ejen Amerika pun mati tak berasap.

Pasti perkara yang sama juga telah terjadi sekali lagi, kerana dengan tetiba sahaja media gerombolan hari ini, tidak lagi melaung-laungkan surah ejen asing ini. Pentabiran di Rumah Putih melihat apa yang berlaku sekarang ini sebagai krisis dalaman - tidak ada sangkut paut dengan jabatan risikan mereka. Justeru apabila dikaitkan Anwar dengan CIA, maka pasti pentabiran Obama ini, seperti tahun 1998, telah mengambil pendirian yang sama.

Langkah kedua yang sedang di jalankan oleh apparatcik dan jentera Najib-Rosmah ialah memastikan parti PAS akan meninggalkan Pakatan Rakyat. Ini adalah langkah yang amat strategik dan penting. Kerajaan Najib Rosmah membaca jika PAS dapat dipisahkan dari Pakatan, maka dengan segera Pakatan Rakyat akan luntur dan pecah.

'Merebut kuasa'

Kita harus menyedari bahawa walaupun PAS mengakui parti Islam - ini tidak memiliki apa-apa makna yang hakiki dalam politik. Kita semua boleh mengakui bermacam-macam. Dalam politik yang direbutkan bukan Allah, Yahwe atau Siddarttha. Politik ialah perjuangan untuk merebut kuasa.

Kuasa diperlukan untuk memastikan lubuk kekayaan dimiliki. Apabila lubuk kekayaan telah dimiliki maka di sinilah akan diuji sama ada parti itu bermazhab sosialis atau kapitalis.

Dalam dunia hanya ada dua sistem ekonomi - kapitalis atau sosialis. Dua sistem ini adalah sistem induk. Selainnya - yang mengakui sistem ini dan sistem itu - hanya pecah-pecahan dari dua sistem ekonomi ini. Seperti kuih bahulu – asasnya adalah tepung, gula dan telur. Warna, corak, rekabentuk hanya tokok tambah untuk mengolah keinginan orang ramai.

Dalam sistem ekonomi kapitalis ini, ada pemimpin PAS yang akan, yang telah dan yang sedang tewas dengan kuasa dan harta kekayaan. Contohnya, kes cerai bekas ADUN PAS dengan isteri keduanya. Sang isteri sedang menuntut berjuta-juta ringgit. Ini kerana sang isteri tahu bahawa sang suami - ketika berkuasa dahulu - pasti ada tanah di sana dan tanah di sini, Ada saham ini dan saham itu. Ini realpolitik. Ianya tidak pula bermakna kita merendahkan keyakinan mereka terhadap Yang Maha Esa.

United Malays National Organisation sedar hal ini. PAS bukan mengajukan sistem ekonomi alternatif kepada kapitalisma. PAS seperti PKR dan DAP, hanya berjanji untuk menguruskan kapitalisme dengan lebih baik. Asas sistemnya masih kapitalisme. Ini hakikat. Ini realpolitik. United Malays National Organisation tahu siapa yang bercita-cita hendak menjadi menteri besar dalam PAS. Gerombolan mengetahui siapa dan siapa yang boleh 'dimakan' di dalam PAS. Gerombolan juga tahu siapa yang bermimpi siang dan malam - pagi dan petang - untuk menjadi menteri kabinet dalam kerajaan Najib-Rosmah.

Ini juga hakikat realpolitik. Menafikan ini adalah menafikan bahawa manusia, haiwan dan tumbuhan hidup di alam ini kerana ada cahaya matahari. United Malays National Organisation akan terus mengasak untuk 'berunding' dengan PAS. Akan terdengar suara suara lantang menolak. Akan terdengar suara-suara pimpinan PAS menafikan itu dan ini. Dalam realpolitik semua berkemungkinan. Dalam realpolitik, yang dicita-citakan ialah kuasa. Dengan kuasa manusia berpeluang menobatkan dirinya dan mengumpul harta.

Waspada! Percubaan dan langkah-langkah yang diambil oleh Najib-Rosmah untuk berunding dengan PAS ini tidak ada sangkut paut dengan Najib sebagai anak Razak. Kerana Razak dahulu berunding dengan PAS maka Najib sang anak, juga akan berunding dengan PAS. Ini bukan bacaan politik. Ini sembang di warung Mek Jah. Dalam realpolitik yang hakiki ialah kuasa.

Keinginan berunding dengan PAS ini adalah perhitungan realpolitik. Ini kerana sesudah pilihanraya yang lalu United Malays National Organisation telah dilihat sedang menuju ke hari-hari akhir. Justeru untuk menyelamatkan harta kekayaan, perpaduan Pakatan Pakyat yang kompak, wajib dilemahkan.

Setiakawan Pakatan

Kota yang kukuh wajib dibocorkan. Setiakawan Pakatan Rakyat yang mekar wajib dikacau-bilaukan. PAS wajib dipisahkan dari Pakatan. Kalau tidak semua, sebahagiannya. Ini perhitungan politik untuk menyelamatkan harta dan kuasa.

Lalu kita sampai ke strategi ketiga - mengharu-birukan kerajaan Pakatan Rakyat. Kerajaan Pakatan Rakyat di Kedah dan Kelantan tidak perlu diganggu-gugat kerana slogan 'kita semua Melayu dan kita semua Islam.' Kerajaan Pakatan di Pulau Pinang boleh digugat tetapi 'slow sikit' kerana

DAP ini lebih senang dikawal kerana Kecinaan mereka. Ahli gerombolan yang meninggalkan parti tidak mungkin akan menjadi ahli DAP.Malah DAP ini juga boleh dibawa berunding jika hari baik dan bulan baik – jika masa dan ketikanya telah ranum. Justeru musuh utama ialah Parti

Keadilan Rakyat dan Anwar Ibrahim. Lalu semua akan dilakukan untuk menggangu-gugat kerajaan Pakatan di Selangor. Lembu, kambing, pasir, tayar kereta, surau, masjid, kuil, sekolah, kasut, punggung - malah apa sahaja yang bersangkutan dengan kerjaaan Selangor - akan digunakan untuk menunjukkan kepada warga Selangor bahawa kerajaan Pakatan ini tidak perlu disokong.

apparatcik dan jentera kerajaan federal sedang digunakan oleh Najib-Rosmah untuk melemahkan kerajaan Selangor. Kes demi kes telah dibuka oleh SPRM terhadap pimpinan kerajaan Selangor. Semua dilakukan untuk menekan agar ada ADUN PKR yang akan berpaling tadah.

Media gerombolan telah digunakan hingga ke tahap maksimum untuk mengolah persetujuan orang ramai. Seluruh Malaysia cuba diberi tahu bahawa krisis yang amat besar sedang melanda kepimpinan kerajaan Selangor. Kerajaan Selangor ini akan runtuh bila-bila masa sahaja dan Khir Toyo boleh kembali berpesta ke Disneyland tanpa soal jawab.

Di mana akhirnya semua ini? Dalam merancang realpolitik, Anwar Ibrahim pasti akan diketepikan. Ini strategi utama. Susuk ini tidak akan diberi peluang untuk bebas bergerak. Jika diikutkan hati nafsu Najib-Rosmah, susuk Anwar ini akan diketepikan sebelum piliharaya Sarawak.

Tetapi bagaimana nanti reaksi kawan-kawan Yahudi Anwar yang selalu diperkatakan itu? Dan bagaimana pula ejen-ejen CIA yang lain? Apakah mereka juga akan datang untuk membantu Anwar? Kini seperti kes Saiful, senjata dan propaganda akan memakan tuannya.

Dalam realpolitik ada yang lebih 'real''. Yang lebih 'real' ialah kuasa rakyat. Kerajaan Selangor mungkin goyang tetapi tidak akan runtuh kerana akarnya semakin kukuh. Kuasa rakyat ini jugalah yang akan menentukan apa yang akan terjadi kepada Anwar Ibrahim.

Justeru United Malays National Organisation hanya ada satu pilihan: mengajak PAS datang berunding. Najib dalam keadaan ini akan menjanjikan apa sahaja. Kalau PAS minta Najib melempang Muhyiddin - pasti Muhyiddin akan kena satu pelempang. Kalau PAS mahu Najib menampar Khairy Jamaluddin - pasti Khairy akan ditampar. Seperti Sultan Mahmud meminang Puteri Gunung Ledang, Najib akan melakukan apa sahaja kecuali PAS tidak akan dibenarkan bertanya berapa orang sebenarnya anak Rosmah Mansor.


Analisis Isu Sumber Malaysiakini
Oleh Hishamuddin Rais

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Apa Hujah&Fakta Mereka 1(10 Paling Terkini)

Apa Perkongsian Mereka (10 Paling Terkini)