yang setia mengikuti blog ini dan ingin mengikuti

Firman Allah SWT:

Wahai umat manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari lelaki dan perempuan, dan Kami telah menjadikan kamu berbagai bangsa dan bersuku puak, supaya kamu berkenal-kenalan (dan beramah mesra antara satu dengan yang lain). Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah orang yang lebih taqwanya di antara kamu, (bukan yang lebih keturunan atau bangsanya). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Mendalam PengetahuanNya (akan keadaan dan amalan kamu).
(Surah Al-Hujurat ayat 13)

Innity

Thursday, November 12, 2009

Royalti: Najib digesa mohon maaf, tarik balik keputusan beri wang ihsan

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/ms/thumb/c/ce/HIBERNIA2.jpg/300px-HIBERNIA2.jpg
KUALA LUMPUR, 12 Nov: Dewan Pemuda PAS Negeri Kelantan menuntut agar Perdana Menteri, Datuk Seri Najib Tun Razak menarik balik keputusan pusat membayar wang ihsan kepada karajaan negeri itu.

Sebaliknya Najib tegas mereka harus membuat pengumuman baru bahawa Kerajaan Persekutuan akan membayar wang royalti seperti yang telah termaktub dalam Akta Pembangunan Petroleum 1974.

Pemuda Kelantan turut menuntut agar Najib membuat permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh rakyat Kelantan di atas tindakan kerajaan merampas royalti rakyat negeri itu.

Tiga tuntutan tersebut dibuat dalam satu penyerahan memorandum kepada Menteri di Jabatan Perdana Menteri, Datuk Seri Mohamed Nazri Abdul Aziz di bangunan parlimen tengahari tadi.

Ketua Pemuda Kelantan, Abdul Latif Abdul Rahman (gambar) dalam satu sidang media di lobi parlimen selepas penyerahan tersebut berkata, penyerahan memorandum berkenaan bagi menunjukkan kesungguhan mereka mewakili rakyat Kelantan menuntut agar kerajaan memberikan royalti, bukannya wang ihsan seperti yang diumumkan.

"Kami dari Dewan Pemuda PAS Kelantan hari ini dapat menyerahkan memorandum kepada Datuk Seri Nazri Aziz, dan memorandum ini kami tujukan kepada Perdana Menteri sebagai usaha kami untuk menuntut supaya Kerajaan Pusat melalui Petronas mengkaji balik keputusan untuk memberi wang ihsan kepada rakyat Kelantan serta syarat tiga batu nautika plantar minyak dari pesisir pantai untuk melayakkan negeri pengeluar mendapat royalti,". katanya.

Salahuddin Ayub (PAS-Kubang Kerian) dalam satu sidang media yang sama berkata, ahli Parlimen Pakatan Rakyat khususnya dari Kelantan akan menanti penjelasan yang terperinci daripada Menteri di Jabatan Perdana Menteri, Tan Sri Datuk Nor Ya'kob.

Nor Ya'kob sewaktu sesi perbahasan di peringkat dasar enggan menjawab walaupun sepatah berkenaan isu ini.

"Kami ahli-ahli parlimen Pakatan Rakyat khususnya dari Kelantan akan meneruskan perjuangan ini di parlimen dan kami berjanji dalam sesi perbahasan bajet di peringkat jawatankuasa kita akan terus membahaskan isu royalti ini.Bagi kami kerajaan pusat seharusnya akur kepada perlembagaan negara dan mengikuti dengan serius apa-apa perkara yang terkandung dalam akta 144,"

Menurutnya juga, ahli parlimen dari Kelantan dan kerajaan negeri sendiri bersedia membuka pintu rundingan berkenaan pemberian royalti ini dengan Kerajaan Pusat
"Atas nama pemberian royalti kami sedia pada bila-bila masa membuka pintu rundingan dengan kerajaan pusat," Ujarnya.

Sementara itu, Datuk Mahfuz Omar (PAS-Pokok Sena) kesal dengan jawapan Nazri yang meminta mereka merujuk perkara itu ke mahkamah yang disifatkan sebagai angkuh.

Ujarnya, jawapan Nazri itu menunjukkan Kerajaan Pusat tidak menghormati perjanjian di antara Petronas dan negeri pengeluar petroleum bahawa tiap-tiap negeri akan menerima lima peratus daripada nilai petroleum yang dijumpai atau diperoleh dalam kawasan atau di luar perairan negeri tersebut.

Nazri sewaktu menerima penyerahan memorandum itu meminta kerajaan Kelantan menyerahkan kepada mahkamah untuk memutuskan samaada Kelantan berhak mendapat royalti atau pun tidak.

"Saya nak meluahkan rasa kecewa saya terhadap respon yang diberikan Datuk Nazri tadi kepada kami.Bagi saya respon yang diberikan kerajaan seperti yang disebut oleh beliau (adalah) satu benda yang tidak sihat kepada konsep federalisme dalam negara kita.Ini akan memberi kesan buruk kepada pertumbuhan ekonomi dalam negara kita.

Kerajaan akan dilihat begitu angkuh apabila sudah jelas mengenai pemberian royalti itu dari sudut akta dan perjanjian kerajaan negeri dengan Petronas," katanya.

Turut bersama dalam sidang media tersebut ialah Dr. Hatta Ramli (PAS-Kuala Krai), Khalid Samad (PAS-Shah Alam), Firdaus Jaafar (PAS-Jerai) dan Ketua Penerangan PAS Kelantan Ustaz Baihaqi Atiqullah yang juga Adun Pasir Tumboh.

Hazayani Zakaria
Sumber:Harakahdaily

Usaha memburukkan Imam As-Syahid Hassan Al-Banna dan As-Syahid Sayid Qutb ditangkis dengan FATWA SYAIKH ABDULLAH BIN JIBRIN.

http://1.bp.blogspot.com/_Ys2D-BpgvUY/SGGN0tZbTkI/AAAAAAAAAEw/-ruuxJHnguA/S150/al-banna.jpghttp://www.semp.us/_images/biots/Biot239PhotoB.jpg

FATWA SYAIKH ABDULLAH BIN JIBRIN (ANGGOTA HA’IAH KIBARIL ‘ULAMA AL-MAMLAKAH AL-’ARABIYYAH AS-SU’UDIYYAH) TENTANG HASAN AL-BANNA DAN SAYID QUTHUB

Akhir-akhir ini kita sering mendengar, diantara saudara sesama muslim menyebarkan isu tentang tuduhan adanya penyimpangan dua orang ulama Mesir; As-Syahid Hasan Al-Banna dan Sayyid Quthub, keduanya dianggap sebagai pawang ahli bid’ah dan pembawa ajaran sesat, bahkan ada yang berarti menyatakan: “Sungguh, membaca buku porno lebih baik daripada membaca buku-buku tulisan tokoh sesat dan menyesatkan dari golongan Ikhwanul Muslim seperti Hasan Albanna, Muhammad Al-Ghazali, Yusuf Qharadawi, atau orang-orang yang sejenis”. (Astaghfirullah al-azhim) sumber dari salah satu email (pembela_sunnah@yahoo.co.id). Padahal dirinya -seperti yang ditulis dalam situs tersebut- menyatakan diri sebagai pembela sunnah tapi mengapa sampai keluar pernyataan seperti itu… semoga kita terlindung dari kata-kata, pernyataan dan ungkapan yang tidak sebenarnya… karena jika benar demikian, maka rugilah kita, banyaknya amal kebaikan yang kita lakukan akan sirna begitu saja oleh karena ungkapan yang tidak sebenarnya, bahkan kelak Allah akan diambil kebaikan orang yang mengungkapkan sesuatu yang tidak sebenarnya untuk diberikan kepada orang yang dituduhkannya… Naudzubillah min dzalik…

Berikut kami sajikan ungkapan salah seorang ulama anggota lembaga ulama Saudi tentang sikap beliau terhadap Imam As-Syahid Hasan Al-Banna dan As-Syahid Sayyid Qutbub…

Segala puji bagi Allah semata.

Menggelari orang lain sebagai mubtadi’ (pelaku bid’ah) atau fasik (pelaku dosa besar) adalah perbuatan yang tidak dibenarkan atas umat Islam, karena Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa yang mengatakan kepada saudaranya: “Wahai musuh Allah”, sedang kenyataannya tidak seperti itu, maka ucapannya itu menimpa dirinya sendiri.” (Muslim).

“Barangsiapa yang mengkafirkan seorang muslim, maka ucapan itu tepat adanya pada salah satu di antara keduanya.” ( Al-Bukhari dan Muslim).

“Bahwa ada seseorang yang melihat orang lain melakukan dosa, lalu ia berkata kepadanya: ‘Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu’. Maka Allah berfirman: ‘Siapakah gerangan yang bersumpah atas (Nama)Ku bahwa Aku tidak akan mengampuni si fulan? Sesungguhnya Aku telah mengampuninya dan Aku gugurkan (pahala) amalmu’.” (HR. Muslim).

Kemudian saya ingin mengatakan bahwa Sayid Quthub dan Hasan Al-Banna termasuk para ulama dan tokoh dakwah Islam. Melalui dakwah mereka berdua, Allah telah memberi hidayah kepada ribuan manusia. Partisipasi dan andil dakwah mereka berdua tak mungkin diingkari. Itulah sebabnya, Syaikh Abdulaziz bin Baaz mengajukan permohonan dengan nada yang lemah lembut kepada Presiden Mesir saat itu, Jamal Abdunnaser “ semoga Allah membalasnya dengan ganjaran yang setimpal – untuk menarik kembali keputusannya menjatuhkan hukuman mati atas Sayid Quthub, meskipun pada akhirnya permohonan Syaikh Bin Baaz tersebut ditolak.

Setelah mereka berdua (Sayid Quthub dan Hasan Al-Banna) dibunuh, nama keduanya selalu disandangi sebutan “Asy-Syahid” karena mereka dibunuh dalam keadaan terzalimi dan teraniaya. Penyandangan sebutan “Asy-Syahid” tersebut diakui oleh seluruh lapisan masyarakat dan tersebarluaskan lewat media massa dan buku-buku tanpa adanya protes atau penolakan.

Buku-buku mereka berdua diterima oleh para ulama, dan Allah memberikan manfaat – dengan dakwah mereka – kepada hamba-hambaNya, serta tak ada seorang pun yang telah melemparkan tuduhan kepada mereka berdua selama lebih dari duapuluh tahun. Bila ada kesalahan yang mereka lakukan, maka hal yang sama telah dilakukan oleh Imam Nawawi, Imam Suyuthi, Imam Ibnul Jauzi, Imam Ibnu ‘Athiyah, Imam Al-Khaththabi, Imam Al-Qasthalani, dan yang lainnya.

Saya telah membaca apa yang ditulis oleh Syaikh Rabie’ bin Hadi Al-Madkhali (ulama muda Saudi yang anti IKHWAN-pen) tentang kitab bantahannya terhadap Sayid Quthub, tapi saya melihat tulisannya itu sebagai contoh pemberian judul yang sama sekali jauh dari kenyataan yang benar. Karena itulah, tulisannya tersebut dibantah oleh Syaikh Bakr Abu Zaid (juga anggota hai’ah Kibaril ‘Ulama KSA-pen) hafidzhahullah

Mata cinta : terasa letih memandang aib
Tapi mata benci : selalu melihat aib

Abdullah bin Abdurrahman bin Jibrin

26 Shafar 1417 H.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Apa Hujah&Fakta Mereka 1(10 Paling Terkini)

Apa Hujah&Fakta Mereka 2 (10 Paling Terkini)

Apa Perkongsian Mereka (10 Paling Terkini)